Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja

Di negeri senja,

namamu terukir dalam prasasti sejarahnya

Sejak dulu hingga kini…

*

Dulu…,

Dalam catatan musafir cinta pengelana muslim dunia ibnu bathuthah

Namamu disebut negeri bertuah

Rakyatmu ramah bermarwah

Raja-rajamu penuh ilmu dan ma’rifah

*

Dulu…,

Dalam catatan kemerdekaan si negeri senja

Konon ia terinspirasi konferensi yang digagas pendirimu

Konferensi asia afrika di kota bunga

*

Setelah si negeri senja merdeka

Bapak pendirimu adalah orang pertama yang bertandang

mengakui kedaulatan

Namanya terukir manis sebagai nama sebuah jalan di ibu kota

Jakarta, bandung ikut menjadi saksi nama-nama jalan itu..

*

Kini…,

setiap generasimu yang bertandang ke negeri senja

mereka akan disambut layaknya sahabat lama tak bersua

penduduk negeri senja lalu bercerita,

anak-anak generasimu ramah-ramah bermarwah

sopan, santun; taat menjunjung agama…

*

Itulah sepenggal kisahmu di negeri senja,

Yang akan selalu dikenang sepanjang masa

Ia akan selalu bersemi bersama semi

Tak lekang diserang zaman

Tak beku disiram salju

Sejak dulu hingga kini…

– – – – – – – – – – – – –  –

Note:

Negeri Bertuah= Indonesia

Negeri Senja= Maroko

 

Dosa

Dosa!

Rupamu tampak muram

Kenapa?

Apakah karena engkau tak dapat tempat lagi dihatiku?

Karena hatiku sudah penuh dosa-doa?

Palestinaku…

Palestinaku…

Sejarah telah mencatat,

Engkau telah didzalimi berabad-abad

Oleh Si keparat, Israel terlaknat,

Si penjahat paling tak bermartabat, sejagat.

*

Palestinaku…

Malu kukata,

“Deritamu deritaku”,

Sedangku, bermegah  – megah

Sedangku bermewah – mewah

Sedangku, semakin malas beribadah

*

Palestinaku…

Malu kuberdo’a

“Tuhan, tolong bantu palestinaku”

Sedangku, semakin cinta, cinta dunia.

Sedangku, semakin takut, takut mati.

*

Palestinaku…

Maafkan aku yang buta,

Maafkan aku yang tuli,

Maafkan aku yang bisu

akan deritamu,

akan sengsaramu selama ini.

*

Palestinaku…

Maafkan aku yang tak mampu

Membelamu dari Bangsa yang serakah

Bangsa yang tak tau malu,

Merebut tanahmu,

sedangkan mereka hanya pendatang.

*

Palestinaku…

Yakinlah, suatu saat engkau akan menang

Suatu saat engkau akan mengusir penjajah serakah itu

Karena Tuhan selalu bersamamu

Karena Tuhan akan selalu menjagamu.

Rabat, 21/09/’14
el – Amdah Ihsan

Penaku Semakin Tumpul

P1020551 copy

Penaku semakin tumpul,

tak terasah.

Goresannya kini layu,

tak mumpuni lagi.

 

Tintaku semakin mengering,

ditiup angin kejumudan;

ditimpa kemarau imajinasi.

 

Kertas-kertasku berdebu,

tak pernah tersentuh.

Dimakan rayap,

tak terjamah.

 

Jari-jariku mulai kaku

Membeku dintara salju sang buku.

 

Imajinasiku melayang pergi

Berlari enggan kembali.

 

Paragraf-paragraf menyepi terhenti,

ditengah hening kemalasan;

ditengah gersang ide dan gagagsan.

 

Sebuah cerita terkatung-katung,

menunggu eksekusi, menunggu gerak

tokoh-tokohnya.

 

Aku ingin kembali

Mengasah penaku,

menyapu debu-debu kertasku,

berlari bersama imajinasi-imajinasiku.

Demi sebuah cerita,

yang akan dikenang sepanjang masa

walau diri telah tiada.

 

Ramadan Bukan Bulan Kenyang

Apa kabar Ramadanmu, kawan…?
Apa kabar puasamu, kawan…?
Apakah sama seperti ramadanku…?
Apakah sama seperti puasaku…?

Kenyang ketika berbuka,
Kenyang ketika melepas dahaga…
Kenyang ketika memulai puasa,
kenyang ketika Imsak tiba…

Ramadan bukan bulan kenyang…
Ramadan bulan empati,
Ramadan bulan berbagi…
Berbagi rasa,
berbagi bahagia,
berbagi derita…
Pada mereka yang tak berpunya,
pada mereka yang papa…

Semoga Ramadanku dan Ramadanmu bukan sekedar formalitas belaka, kawan…
Bukan juga halusinasi, bukan juga fatamorgana, bukan juga retorika…

Tapi Ramadan yang berwibawa,
Ramadan yang Taqwa…

Allahumma Amiin…

 

Rabat, 10 Juli ’14/12 Ramadan 1435 H

Purnama

purnama yang dulu kutatap

kini mulai redup

langit mulai gelap

cahaya kembali pulang

 

malam mulai kelam

cahaya mulai padam

dengkuran berbunyi

berbisik sepi

 

Purnama…

kutahu kau takkan kembali padaku

karena punguk telah mempersuntingmu

 

purnama…

kini kukan sendiri lagi

dalam kelam

dalam malam

dalam sunyi, dalam sepi…

Mohammedia, 11 Juni 2014

Sekeping Hati

Sekeping hati yang ada padaku saat ini adalah milikMu yaa Allah,

Begitu juga sekeping hati yang ada pada insan raga yang jauh dariku saat ini…

 

Bungkahan rasa yang ada padaku saat ini adalah milikMu yaa Allah,

Begitu juga bungkahan rasa yang ada pada insan raga yang jauh dariku saat ini…

 

Engkau Pemilik sejati Hati dan Rasa ini,

dan Engkau pula pemilik takdir pertemuan, perpisahan,

dan penyatuan dua hati, dan dua rasa ini…

 

PadaMu kuberserah, pada takdirMu kupasrah…

 

Dosa yang Terulang

Tuhan..
Aku tercebur lagi
dalam lembah maksiat itu
dalam kobangan dosa tak berkesudahan

Aku malu
padamu, Tuhan…
selalu menghadapmu dalam kelam maksiatku

Aku ngilu akan nafsu ini, Tuhan…
ia seolah tak pernah puas menyiksaku
dalam lemah akalku

Aku sungguh malu
selalu bermaksiat di depan-Mu

Entah kapan
aku bisa berlari
dari durja maksiat ini

Tuhan…
semoga engkau tak bosan mengampuniku
dalam Rahmaan-Rahiim-Mu.

Akad Suci

Dulu melirikmu aku dosa

Sekarang menatapmu aku pahala

 

Dulu memyentuhmu aku maksiat

Sekarang membelaimu aku rahmat

 

Sungguh indah aturan Tuhan

Pada pasangan anak Adam

 

Janji sehidup semati

Membawanya jauh pergi

 

Dari maksiat menuju Rahmat

Dari dosa menuju pahala

 

Itulah akad suci

pembeda batas kotor dan suci.

Mohammedia, 11 Januari 2014

Gadis Cilik dan Pemilik Rumah Makan

Siang itu, setelah menunaikan shalat Jum’at. Saya pergi ke sebuah Rumah Makan yang menyediakan makanan berupa menu kegemaran saya disini, Rubu’ Dajaj (Ayam 1/4).

Setelah hampir selesai menikmati rejeki dari Tuhan ini, tiba-tiba datang seorang gadis cilik dengan pakaian lusuh, rambut yang tak teratur, Kumal.

Dia datang mengiba didepan para penyantap nikmat Tuhan. Mengharap recehan dirham dari para (yang beruntung) pemiliknya.

Namun apa yang terjadi, si pemilik Rumah Makan menghalaunya pergi dengan bentakkan yang kasar. Sebelum gadis itu mendapat apa-apa.

Hatiku tersayat menatap pemandangan itu, terhiris oleh bentakkan kasar sang pemilik rumah makan.

(Adik kecil yang tak beruntung, berbadan lusuh, dekil dan kumal. Hadirmu menerbangkan ingatku pada adik-adik kecilku diseberang benua sana. Ia sedikit beruntung darimu.)

Adik kecil yang dekil dan kumal. Maafkan aku yang papa Iman. Membelamu aku tak mampu. Memberimu aku tak ada. Walau aku pernah membaca firman Tuhan “Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardik(nya).”

Akhirnya, si adik kecil mengulum senyum (entah sebahagia apa dia) kala seorang pemuda datang menghampirinya. Merogoh dirham-dirham untuknya.

Semoga di lain tempat (ini), engkau menemukan para pengiba  berhati Malaikat. Berakhlak Sang Baginda Nabi, Muhammad Rasulullah. Layaknya seorang pemuda itu.

Untuk para penikmat nikmat Tuhan, jika tak mampu memberi, mampulah untuk mengasihi dan mengasihani. Karena disebagian rejekimu ada hak-hak mereka yang tak seberuntung dirimu, dan rejekimu itu hanya titipan yang akan dipertanggungjawabkan kelak.

Mohammedia, 11 Januari 2014.